
PULUHAN pelajar berseragam putih biru menyesaki ruang studio photo seluas 4×8 meter persegi. Satu persatu secara giliran duduk diatas kursi. Jarak empat meter, berdiri Imam Mujari bersiap memotret. Kamera tipe nikon D 300 menyatu dengan tripod. Tripod itu seperangkat dengan sejumlah tombol khusus. Ketika ditekan, lighting menyala. Perhatian Imam beralih ke seragam pelajar itu yang belum rapi.
Telaten tangan Imam membenai kerah, dasi dan lipatan seragam. ‘’Punggungnya tegak, pundaknya yang kiri diturunkan sedikit. Tangannya kurang maju. Tengok ke kiri. Ke kiri lagi. Sedikit lagi hop. Kebanyakan sedikit lagi. Senyumnya yang ceria. Nah, tahan 1,2,3 (lighting studio menyala sekejap) sudah,’’ kata Imam mengatur postur tubuh pelajar itu.
Terhitung empat jam, pria 63 tahun ini berdiri di belakang kamera. Sibuk meladeni permintaan sebuah SMPN di Ponorogo untuk foto rapor sekolah. Sekolah itu sudah langganan sejak puluhan tahun. Setiap ajaran baru dipastikan datang ke studio. Kebetulan tahun ini ada delapan kelas yang difoto. Per kelas muridnya minimal 30 – 32 siswa. “Ada delapan kelas ini baru enam,” ujar warga Siman, Ponorogo ini.
Berdiri berjam-jam dianggap Imam sudah biasa. Malah, pernah memotret ratusan pelajar dari 12 kelas. Namun, usia membuat tubuhnya mudah lelah. Tidak se-energik dikala muda. Warga Siman, Ponorogo ini bekerja di studio photo Jalan HOS. Cokrominoto, Bangunsari ini dari 1975. Sebelumnya, Imam kerja bangunan alias kuli. Ketika mengerjakan proyek bangunan di dekat Pasar Legi pimpinan studio poto menawarkan pekerjaan tetap dengan gaji bulanan. ‘’Saya terima pekerjaan itu dan bantu cuci cetak film dulu,’’ terangnya.

Selama enam tahun sehari-hari Imam berkutat di dalam ruang khusus cuci cetak film. Sekelilingnya gelap hanya ada lampu berdaya lima watt. Selain gelap juga lekat dengan aroma cairan kimia khusus. Bahkan, kerasnya bahan cairan itu membuat jari-jemari Imam bisa menghitam dan mengelupas. Kendati sudah memakai pengaman berupa sarung tangan. ‘’Kadang besoknya tangan itu perih yang sisa kelupasan itu tadi,’’ kenangnya.
Dibilik itulah bersama seorang temannya Imam mencuci, mencetak roll film jadi foto. Hasil cetak foto yang dihasilkan masih berwarna hitam putih dengan sistem percetakan yang manual. Lekat dalam ingatan proses untuk mencuci film black and white ini memakan waktu sekitar tiga-empat jam. Setelah dicuci masuk ke tahapan pendinginan selama kurang lebih dua jam. Selanjutnya, roll film dicampur dengan bahan-bahan kimiawi selama hampir satu setengah jam. Proses pencampuran bahan kimia ini harus pas dan sesuai takaran agar kualitas foto maksimal. ‘’Semuanya masih manual,’’ terangnya.
Usai enam tahun, Imam dipercaya memotret di studio foto sekitar 1980. Kala itu, kamera anlalog merk Mamiya dari Jepang yang dipakai Imam bekerja sehari-hari. Imam merasakan sensai memotret manual yang proses settingnya sangat berbeda dengan kamera digital. Sembari mendemokan sedikit cara Imam memotret kala itu. Untuk mengatur lighting lampu studio tombol khusus diatas kaki. Sambil memegangi kamera kaki bersiap memijak tombol on-off lighting . ‘’Kalau mau geser posisi pijakannya itu ya diseret (berjalan menyeretkankaki),’’ kenangnya.
Bukan hanya itu, untuk mengoperasionalkan kamera juga diatur. Tidak sekadar memutar lensa dan klik. Dibtuhkntingkat kejelian dan ketelatenan juga kesabaran. Menggunakan daya intuisi untuk mengatur cahaya serta tata letak obyek dalam frame yang pas. Karena itu dibutuhkan kreativitas dan teknik yang matang. Jam terbang juga mempengaruhi. ‘’Dua tahun belajarnya. Setelah dua tahun baru nggak deg-degan kalau lihat orang masuk ke dalam studio photo,’’ terangnya.
Dulu, tahun 1980-1990an studio photo tempatnya bekerja menjadi studio foto pertama di bumi reyog. Pekerjaan tukang foto kala itu tergolong keahlian langka. Tidak heran, Imam kerap menerima permintaan orang untuk sekadar memotret beragam momentum hajatan pernikahan. Sementara di studio foto selain foto pernikahan juga ramai foto pasangan, keluarga dan persahabatan. ‘’Juga gemblak-gemblak yang berfoto. Yang laki-laki dipacaki sekarang sudah nggak ada,’’ ungkapnya.
Konsumen juga membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk mengetahui hasil jepretan. Jika ada gambar yang kualitasnya jelek akan difoto ulang. Karena itu, butuh kecermatan tinggi saat proses memotret. Jika salah mengulang foto. Sampai tiba era kamera digital turut meringankan pekerjaan Iman. Semisal, usai difoto dia bisa mengetahui secara langsung hasil potretnya. ‘’Kira-kira 10 tahun ini pakai kamera digital ini, kamera analog dan perlengkapan cuci cetak film disimpan semua sampai sekarang masih ada dikunci bosnya. Ruang bekas cuci cetak film itu jadi kamar tamu,’’ ujarnya.
Kendati berganti kamera digital, sebuah lonceng kecil setia menggantung di kaki tripod. Lonceng ini biasa dipakai Imam saat sesi foto balita. Sembari menyentuh kamera tangan kirinya menggoyangkan lonceng dan berbunyi nyaring. Suara lonceng ini jurus andalan menarik perhatian balita agar fokus menghadap kamera. ‘’Lonceng ini usianya 50 tahun ini sejak bosnya motret,’’ bebernya sembari menarik lonceng yang menggantung di tripod.
Bukan hanya lonceng nuansa studio photo sebagian juga terlihat jadul. Imam betah menahun bekerja di studio photo lantaran senang dengan pekerjaanya itu. Pernah, ketika muda dulu mendapatkan tawaran dari Polres Ponorogo untuk menjadi tenaga dokumentasi.Namun, dia tolak. Merasa tidak enak dengan tempatnya bekerja. ‘’Saya belajar foto dari sini setelah bisa teru saya tinggal ? (lalu menggeleng-gelengkan kepala),’’ akunya.
Dari upah Rp 25 ribu rupiah perlahan namun pasti Imam mampu menghidup istri dan ke empat orang anaknya. Malah, putrinya yang nomor dua itu dokter gigi dari FK UI yang kini bermukim mapan di Jakarta. Berkat foto pula, Imam cukup dikenal masyarkat luas Ponorogo dan sekitarnya. Tidak sedikit pelanggan Imam yang masih mengenali dirinya. Setiap lebaran sempatkan foto ke studio poto itu dan akan menyapa dirinya. ‘’Ada yang bilang, dulu mbahnya kalau foto ya disini dan mereka doakan saya sehat,’’ beber kakek tiga cucu ini.














