Imam Mujari Sepenuh Hati di Jalan Fotografi

PHOTO BY: DILA RAHMATIKA

PULUHAN pelajar berseragam putih biru menyesaki ruang studio photo seluas 4×8 meter persegi. Satu persatu secara giliran duduk diatas kursi. Jarak empat meter, berdiri Imam Mujari bersiap memotret. Kamera tipe nikon D 300 menyatu dengan tripod. Tripod itu seperangkat dengan sejumlah tombol khusus. Ketika ditekan, lighting menyala. Perhatian Imam beralih ke seragam pelajar itu yang belum rapi.

Telaten tangan Imam membenai kerah, dasi dan lipatan seragam. ‘’Punggungnya tegak, pundaknya yang kiri diturunkan sedikit. Tangannya kurang maju. Tengok ke kiri. Ke kiri lagi. Sedikit lagi hop. Kebanyakan sedikit lagi. Senyumnya yang ceria. Nah, tahan 1,2,3 (lighting studio menyala sekejap) sudah,’’ kata Imam mengatur postur tubuh pelajar itu.

Terhitung empat jam, pria 63 tahun ini berdiri di belakang kamera. Sibuk meladeni permintaan sebuah SMPN di Ponorogo untuk foto rapor sekolah. Sekolah itu sudah langganan sejak puluhan tahun. Setiap ajaran baru dipastikan datang ke studio. Kebetulan tahun ini ada delapan kelas yang difoto. Per kelas muridnya minimal 30 – 32 siswa. “Ada delapan kelas ini baru enam,” ujar warga Siman, Ponorogo ini.

Berdiri berjam-jam dianggap Imam sudah biasa. Malah, pernah memotret ratusan pelajar dari 12 kelas. Namun, usia membuat tubuhnya mudah lelah. Tidak se-energik dikala muda. Warga Siman, Ponorogo ini bekerja di studio photo Jalan HOS. Cokrominoto, Bangunsari ini dari 1975. Sebelumnya, Imam kerja bangunan alias kuli. Ketika mengerjakan proyek bangunan di dekat Pasar Legi pimpinan studio poto menawarkan pekerjaan tetap dengan gaji bulanan. ‘’Saya terima pekerjaan itu dan bantu cuci cetak film dulu,’’ terangnya.

PHOTO BY: DILA RAHMATIKA

Selama enam tahun sehari-hari Imam berkutat di dalam ruang khusus cuci cetak film. Sekelilingnya gelap hanya ada lampu berdaya lima watt. Selain gelap juga lekat dengan aroma cairan kimia khusus. Bahkan, kerasnya bahan cairan itu membuat jari-jemari Imam bisa menghitam dan mengelupas. Kendati sudah memakai pengaman berupa sarung tangan. ‘’Kadang besoknya tangan itu perih yang sisa kelupasan itu tadi,’’ kenangnya.

Dibilik itulah bersama seorang temannya Imam mencuci, mencetak roll film jadi  foto. Hasil cetak foto yang dihasilkan masih berwarna hitam putih dengan sistem percetakan yang manual. Lekat dalam ingatan proses untuk mencuci film black and white ini memakan waktu sekitar tiga-empat jam. Setelah dicuci masuk ke tahapan pendinginan selama kurang lebih dua jam. Selanjutnya, roll film dicampur dengan bahan-bahan kimiawi selama hampir satu setengah jam. Proses pencampuran bahan kimia ini harus  pas dan sesuai takaran agar kualitas foto maksimal. ‘’Semuanya masih manual,’’ terangnya.

Usai enam tahun,  Imam dipercaya memotret di studio foto sekitar 1980. Kala itu, kamera anlalog merk  Mamiya dari Jepang yang dipakai Imam bekerja sehari-hari. Imam merasakan sensai memotret manual yang proses settingnya sangat berbeda dengan kamera digital. Sembari mendemokan sedikit cara Imam memotret kala itu. Untuk mengatur lighting lampu studio tombol khusus diatas kaki. Sambil memegangi kamera kaki bersiap memijak tombol on-off lighting . ‘’Kalau mau geser posisi pijakannya itu ya diseret (berjalan menyeretkankaki),’’ kenangnya.

Bukan hanya itu, untuk mengoperasionalkan kamera juga diatur. Tidak sekadar memutar lensa dan klik. Dibtuhkntingkat kejelian dan ketelatenan juga kesabaran. Menggunakan daya intuisi untuk mengatur cahaya serta tata letak obyek dalam frame yang pas. Karena itu dibutuhkan kreativitas dan teknik yang matang. Jam terbang juga mempengaruhi. ‘’Dua tahun belajarnya. Setelah dua tahun baru nggak deg-degan kalau lihat orang  masuk ke dalam studio photo,’’ terangnya.

Dulu, tahun 1980-1990an studio photo tempatnya bekerja menjadi  studio foto pertama di bumi reyog. Pekerjaan tukang foto kala itu tergolong keahlian langka. Tidak heran, Imam  kerap menerima permintaan orang untuk sekadar memotret beragam momentum hajatan pernikahan. Sementara di studio foto selain foto pernikahan juga ramai foto pasangan, keluarga dan persahabatan. ‘’Juga gemblak-gemblak yang berfoto. Yang laki-laki dipacaki sekarang sudah nggak ada,’’ ungkapnya.

Konsumen juga membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk mengetahui hasil jepretan. Jika ada gambar yang kualitasnya jelek akan difoto ulang. Karena itu, butuh kecermatan tinggi saat proses memotret. Jika salah mengulang foto. Sampai tiba era kamera digital turut meringankan pekerjaan Iman. Semisal, usai difoto dia bisa mengetahui secara langsung hasil potretnya. ‘’Kira-kira 10 tahun ini pakai kamera digital ini, kamera analog dan perlengkapan cuci cetak film disimpan semua sampai sekarang masih ada dikunci bosnya. Ruang bekas cuci cetak film itu jadi kamar tamu,’’ ujarnya.

Kendati berganti kamera digital, sebuah lonceng kecil setia menggantung di kaki tripod. Lonceng ini biasa dipakai Imam saat sesi foto balita. Sembari menyentuh kamera tangan kirinya menggoyangkan lonceng  dan berbunyi nyaring. Suara  lonceng ini jurus andalan menarik perhatian balita agar fokus menghadap kamera. ‘’Lonceng ini usianya 50 tahun ini sejak bosnya motret,’’ bebernya sembari menarik lonceng yang menggantung di tripod.

Bukan hanya lonceng nuansa studio photo sebagian juga terlihat jadul. Imam betah menahun bekerja di studio photo lantaran senang dengan pekerjaanya itu. Pernah, ketika muda dulu mendapatkan tawaran dari Polres Ponorogo untuk menjadi tenaga dokumentasi.Namun, dia tolak. Merasa tidak enak dengan tempatnya bekerja. ‘’Saya belajar foto dari sini setelah bisa  teru saya tinggal ? (lalu menggeleng-gelengkan kepala),’’ akunya.

Dari upah Rp 25 ribu rupiah perlahan namun pasti Imam mampu menghidup istri dan ke empat orang anaknya. Malah, putrinya yang nomor dua itu dokter gigi  dari FK UI yang kini bermukim mapan di Jakarta. Berkat foto pula, Imam cukup dikenal masyarkat luas Ponorogo dan sekitarnya. Tidak sedikit pelanggan Imam yang masih mengenali dirinya. Setiap lebaran sempatkan foto ke studio poto itu dan akan menyapa dirinya. ‘’Ada yang bilang, dulu mbahnya kalau foto ya disini dan mereka doakan saya sehat,’’ beber kakek  tiga cucu ini.

Kisah Klasik di Rumah Warsono

NUANSA tempo dulu kental  dirasa ketika menginjakkan kaki di rumah Warsono. Sebelum memasuki area ruang tamu, dari pelataran rumah tamu harus  melewati dua buah pintu kayu jati terukir wayang. Menyusuri setiap sudut rumah sejumlah perabot rumah tangga barang lawas. Maklum, Warsono si empunya rumah adalah penggemar berat barang antik di Ponorogo sejak puluhan tahun silam. Bahkan, dari sebagian koleksi barang antik tersebut dijual untuk memenui kebutuhan hidup keluarganya hingga saat ini.

 ‘’Dulu tahun 1990an sebelum jual barang antik saya konsultan di PLN. Saya resign dan menganggur nggak ada kerjaan, padahal waktu itu baru saja menikah,’’ kata Warsono ditemui Radar Ponorogo di rumahnya kemarin .

Kali pertama berburu barang antik, dia banyak belajar dari adiknya. Yang lebih dulu menggeluti dunia  barang antik.  Dari situlah kecintaanya dengan barang antik tumbuh dalam jiwanya. Yang belanjut sebagai bisnis baru usai resign dari karyawan BUMN. Masih lekat dalam ingatannya, barang antik buruan pertamanya adalah glebek sebuah gilingan padi tradisional. Dari adiknya dia mengenal pembeli glebek dari Bali. Masyarakat Bali banyak yang membeli glebek ini kebutuhan menggiling padi. ‘’Itu  barangyan gsaya jual pertama,’’ ujarnya.

Sedari itulah Warsono sering gladak –sebutan berburu barang antik di kalangan  pecinta barang antik- Sampai akhirnya, dia berkenalan dengan seseorang penggear barang antik dari warga negara amerika serika yang  berdomisili di sebuah kota Jatim. Setiap kali ada bule yang singgah kerumahnya banyak yang bertanya asal barang antik tersebut. ‘’Akhirnya orang luar negeri itu datang kesini. Terus banyak yang datang kesini dari Amerika Serikat, Swiss, Yunani,Korea sampai Jepang,’’ terangnya.

WNA ini senang dengan barang ataub perabot untuk dijadikan hiasan. Apalagi, jika perabot tersebut menyimpan cerita dn terkait dengan tokoh kenamaan tempo dulu. Seperti sebuah almari koleksinyaa peninggalan keraton Solo. Ramainya konsumen asing ini berlansung tidak lama. Hanya dikurun waktu 1991-2010. ‘’Setelah itu perlahan sepi. Pembeli di Bali juga sepi setelah ada bom bali,’’ paparnya.

Sejauh ini Warsono berburu barang antik dari wilayah Gresik sampai Demak. Melalui perantara seorang makelar yang mengetahui keberadaan barang antik tersebut. Seperti sebuah jineman dengan ukiran khas Demak yang ada di halaman belakang rumahnya. Didapatnyalima tahun silam ketika dia berkunjung ke Demk. ‘’Makelarnya ini bilang ada barang bagus saya diantar ke rumah sebuah pedesaan. Jarak dari kotanya ke desa itu ada 20 kilometer dan jalannya makadam, banyak batu batu-batu besar,’’ kenangnya.

Jineman itu masih dipakai pemiliknya sebagai ruang tidur. Sesuai fungsinya,  dari dulu jineman ini hanya ada satu di sebuah rumah. Anggota keluarga tertualah yang berhak tidur di jineman. Susunan kayu jinemanini dibongkar dan diangkut ke atas truk untuk dibawa ke Ponorogo. ‘’Ini (menunjuk jineman) sudh langka sekali pernah ditawar mahal sekali nggak saya lepas, eman,’’ ungkapnya.

Selain jineman di pelataran rumahnya yang lain juga bercokol banyak sawung, rumah panggung untuk lumbung padi asli yang didapatnya dari Ponorogo. Juga sawung lainnya yang diperoleh hasil gladak ke Jombang. ‘’’Saya kalau gladak bisa pagi sampai malam. Pernah dulu jaman belum ada HP, saya tinggal gladak di sekitaran Ponorogo anak pertama saya lahir, baru tahu pas pulang kerumah,’’ kenangnya.

Katanya, barang kuno ini bisa menjadi sangat mahal apabila terdiri dari komponen ukiran maupun cat dari sebuah barang. Ada istilah cat gincu yang biasa ditemui di sebuah ukiran. Warna cat gincu ini hanya ada empat macam. Yakni, merah ,kuning, hijau, hitam dan hijau. Biasanya, disapukan sedikit di beberapa bagian ukiran. Warnanya awet melebih cat masa kini. ‘’Itu dibuatnya dari getah. Suadh 20 tahun ini banyak yang cari  nggak temu. Orang Purwontoro ahlinya repro barang antik saja nggak temu. Cat gincu ini digores dikaih apa aja susah hilangnya, kalau ada ini (cat gincu) barang jadi mahal,’’ jelasnya.

Selain itu, juga dilihat dari bentu ukiran. Apabila ada ukiran hewan, wayang atau manusia dalam barang antik dipastikan harganya selangit. Penggemar antik menyukai ukiran yang original. Pahatan yang dibuat orang jaman dulu dianggap unik. Semisal, pahatan kuda tidak menyerupai kuda asli. Melainkan, dilihat sekilas mirip anjing, kerbau atau hewan lainnaya.

‘’Itu yang unik. Antik. Orang dulu mahat nggak banyak alat, juga nggak  digambar dulu kayunya tapi bisa jadi bagus dan awet. Originalnya ini disukai penggemar barang antik. Terakhir, yang membuat semakin mahal ada prada. Cat dari emas muda biasanya diukiran Cina, kalau cat gincu hanya diwarna sedikit-sedikit. tapi kalau prada bisa full semua ukiran,’’ pungkasnya sembari menyebut pemilik perabotan dengan cat gincu maupun prada  adalah orang kaya di jaman dulu. Bahan-bahan itu cukup mahal di erannya. (dil)

Muhammad Haris Kritik Milenial Generasi Menunduk

Kata-kata bukan hanya milik mereka yang melihat saja. Muhammad Haris yang tunanetra rajin menuliskan puisi dan membacakannya. Memukau siapa saja yang menyimaknya.

===========

DILA RAHMATIKA, 

SAHABAT. Tema itu lancar dituliskan Muhammad Haris saat mengikuti lomba cipta dan baca puisi. Lima bait puisi itu mengisahkan pertemanannya di sekolah. ‘’Dia sahabat baik saya, tapi sekarang sudah pindah sekolah. Dia teman yang baik dan suka menasihati. Dulu dia normal lalu kehilangan penglihatan karena banyak minum-minum. Sekarang sudah insaf,’’ kenang Haris.

Saat membacakan puisi, Haris pun berhasil memukau juri dan peserta lainnya. Dengan sekali tarikan napas, lantang suaranya menggema ke seluruh ruangan. Momen itu terekam saat dirinya mengikuti lomba cipta baca puisi tingkat Jatim di Surabaya beberapa waktu lalu. ‘’Saya bacakan dengan A-I-U-E-O yang jelas,’’ ujarnya.

Sebelum memberikan penampilan terbaiknya, Haris latihan tiga kali sepekan. Dia pun mengikuti seleksi di sekolah sebelum mewakili ke tingkat provinsi. Di tahapan seleksi itu, dia menulis puisi tentang generasi milenial. Rangkaian kata-kata tiga lembar itu dibacakan lalu direkam. Video rekaman itulah yang dikirimkan ke tingkat provinsi. ‘’Puisi ini membicarakan tentang generasi menunduk. Karena banyak remaja yang sibuk dengan gadgetnya, akhirnya kurang komunikasi dengan lingkungan sosialnya,’’ terang Haris.

Juara I tingkat provinsi, Haris pun melenggang ke tingkat nasional. Terbang ke Jakarta menjadi pengalaman berharga siswi kelas VIII SLB-A Aisyiah ini. Sampai di Jakarta, mekanisme lomba tidak jauh berbeda. Bersama perwakilan dari 34 provinsi se-Indonesia. Tema puisi yang hendak ditulis baru disampaikan saat lomba dimulai. ‘’Temanya kreativitas. Mikirnya agak lama waktu itu,’’ ungkapnya.

Belasan menit kemudian, dia putuskan menulis tentang mimpi dalam gelap. Menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Berharap suatu saat nanti bisa menjadi guru. Akankah cita-citanya terwujud? Dia gamang. Selain tunanetra, ayahnya yang juga tunanetra hanyalah seorang tukang pijat. ‘’Jadinya, mimpi dalam gelap. Nulisnya jadi sedikit. Nggak menang,’’ katanya.

Kendati gagal membawa pulang piala, Haris senang bisa menginjakkan kaki di ibu kota. Kesan pertama tentang ibu kota adalah kota yang luas dan ramai. Juga berkesempatan keliling betawi bersama guru pendamping selama lima hari.  ‘’Menambah motivasi ikut lomba cipta baca puisi lagi di tahun mendatang,’’ ujarnya sembari menyebut ingin jadi guru agama atau sejarah.

Haris gemar menulis sedari kelas pertama di SMP.  Kecintaannya menulis berawal dari kegemarannya mendengar paparan budayawan Emha Ainun Najib. Sebab, dalam berdakwah kerap menyelipkan kata-kata puitis. Itu menginspirasinya untuk memperkaya perbendaharaan kata. ’’Saya tahu Cak Nun dari teman sekamar. Suka mendengarkan videonya sebelum tidur,’’ pungkasnya. *** (fin/c1)

(tulisan ini sudah terbit di http://radarmadiun.co.id/muhammad-haris-kritik-milenial-generasi-menunduk/ )

Ponpes Darul Huda Mayak Gudangnya Seniman Kaligrafi

TANGAN M.Habib Ali Masduki menggunakan kuas menyapu kanvas putih dengan warna biru langit. Hingga membentuk lukisan seperti langit biru dengan cahaya putih ditengahnya.  Dari biru berganti kecokelatan memperjelas gambar tanah lengkap dengan bebatuannya. Sementara diantara tanah dan bebatuan itu bertuliskan ayat inna akromakum ‘indallahi atqakum yang digambar dengan cantik. Sementara di bagian batu lainnya bersandar huruf arab bertuliskan lafadz Allah, ‘’Jadi ini langitnya dan ini buminya, pesannya langit dan bumi adalah bagian dari kekuasan Allah SWT,’’ kata Habib –sapaan akrabnya- santri Ponpes Darul Huda Mayak Ponorogo.

Ada empat klasifikasi kaligrafi yang diajarkan di ponpes ini. Yakni, kaligrafi lukis, mushaf, dekorasi dan naskah. Dari ke empat itu, santri kelas XI MTs ini menekuni kaligrafi lukis. Layaknya melukis pada umumnya, pada kaligrafi lukis objek utama yang digambar adalah ayat suci Al-Quran yang  ditulis sesuai kaidahnya. Sedikitnya ada enam kaidah kaligrafi. Yakni, naskhi, tsuluts, riq’ah, kufi, farisi, diwani. Dan dalam kaligrafi lukis, seniman bisa bebas menggunakan ke enam kaidah tersebut ketika menggambar ayat Al-Quran, ‘’Kaligrafi lukis ini bermain imajinas, banyak warna dan kaidahnya,’’ ujar remaja 18 tahun ini.

Sedari Madrasah Ibtuidaiyah (MI) Habib sudah mengenal kaligrafi.  Hanya saja kala itu menggambar ayat menggunakan crayon. Selain itu darah seni mengalir dari jiwanya. Terbukti, ketika kelas V MI pernah menjuarai lomba menggambar. Ketertarikan menggamabar itulah yang membawanya pada kaligrafi lukis. Yang ternyata lukisan dipadupadankan dengan kaligrafi hasilnya juga menarik, ‘’Lulus MI segaja pillh ponpes mayak karena disini terkenal mendalam kaligarfinya. Jadi ingin memperdalam lagi,’’ imbuhnya.

Di Ponpes Mayak untuk mempelajari kaligrafi haruslah melwati basic pertama. Selama setahun dibimbing ustad/ustadzah ahli kaligrafi menguasai teknik menulis ayat. Setelah itu santri dituntut untuk aktif mengikuti pelatihan. Dan didorong mengikuti kompetisi kaligrafi jika ingin mengukur kemampuan seni dalam Islam ini, ‘’Naik kelas dua MTs pertama kali ikut kompetisi kaligrafi sepondok. Khusus putra. Alhamdulillah dapat juara satu, waktu itu yang dilombakan  khusus untuk menulis lafadz saja,’; kenangnya.

Barulah setelah setahun dibina, memasuki tahun kedua santri diminta bebas memilih dari empat klasifikasi kaligrafi itu. Dan Habib memilih menekuni kaligrafi lukis. Berkat ketekunannya itu,  berhasil  menyabet juara satu kaligrafi Porseni MTs se-Ponorogo . Dan berhak mewakili Jatim dalam ajang porseni Jatim caang kaligrafi Oktober mendatang, ‘’Kalau lomba gitu dikasih waktu delapan jam melukis diatas kertas manila, yang bagus itu tidak ada satu huruf yang tertinggal dan karya  harus timbul dan kelihatan hidup,’’ bebernya.

Bagi Habib kunci memhami kaligrafi adalah melihat, meniru dan memodifikasi. Selain Habib, dua tutor kaligrafi lainnya di ponpes ini adalah  Muhammad Ainun Najib dan Muhammad Mas’ud. Masing-masing ustadz  ini menekuni bidang kaligrafi yang berbeda. Najib berfokus pada naskah. Sedangkan, Mas’ud lebih tertarik ke mushaf, ‘’Kalau mushaf ini kaidah yang dipaka minimal tiga. Dan banyak hiasannya seperti bunga-bunga. Harus sabar dan telaten,’’ paparnya.

Lain cerita dengan Mas’ud yang cenderung menyukai gaya kaligrafi naskah. Ciri khasnya, warna yang digunakan hanya hitam dan putih. Juga lebih menekankan pada aspek penulisan huruf arab. Dalam kompetisi kaligrafi seseroang yang menggambar naskah ada dua karya yang dibuat. Yang satu khusus  menulis huruf arab seperti yang biasa ditemui dalam lembaran Al-Quran, ‘’Menulisnya  nggak sembarangan enam kaidah bisa diterapkan, kertas manila satunya untuk menggambar huruf dengan dikreasikan,saya senang  gaya naskah ini karena nggak ribet, tidak butuh banyak warna dan spidol,’’ bebernya.

Yang terpenting dalam kaligrafi adalah bukan sekadar tulisan arab. Proses mempelajari seni ini tidak instant. Melainkan membutuhkan keultean dan waktu yang tidak sebentar. Juga, kaligrafi adalah bagian dari syiar Islam. Tidaks edikit yang mendapatkan ladang rejeki dari ketekunan berkaligrafi. Seperti membuat kaligrafi untuk kebutuhan pembangunan masjid atau menjadi guru. ‘’Kursus kaligrafi di sini sudah ada sejk 1999 dan alumnus ponpes ini ada yang sekarang menetap di Turki jadi instruktur kaligrafi disana namanya Nur Hamnidiyah,’’ pungkasnya. (dil)

(tulisan ini sudah terbit di koran Jawa Pos Radar Ponorogo edisi 1 September)

Masih Ada Harapan di Karang Patihan

Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, terbilang istimewa. Sebanyak 96 warganya tercatat tunagrahita. Berbagai program pemberdayaan berhasil mengentaskan mereka dari gelapnya hidup keterbelakangan mental.

————————

DILA RAHMATIKA

DI sini masih ada harapan. Tulisan itu menggantung di atap. Pintu rumah itu terkunci. Bahan membuat keset dan kain perca menumpuk di halaman samping. Seorang gadis cilik berambut pendek sibuk menyapu pelataran. ‘’Mau foto-foto ya Mbak?  Bapaknya ke Malang,’’ kata Bunga Lestari.

Gadis itu menghampiri seraya merapikan potongan kain perca. Membantu Boinah, ibunya, memilah lembaran kain perca untuk kemudian dirangkai menggunakan cetakan khusus membuat keset dari kain perca, ‘’Ibu nggak bisa ngomong,’’ ujarnya.

Ya, kedua orang tua Bunga adalah peyandang disabilitas di Tanggungrejo, Balong. Jika ibunya kesulitan untuk berbicara, ayahnya masih bisa bercakap dengan terbata-bata. Ketika Radar Ponorogo mencoba berbincang dengan keduanya, mereka hanya tersenyum dan tetap melanjutkan membuat keset. ‘’Di sini kan banyak tunagrahitanya,’’ terang Bunga polos.

Di mata Bunga, tunagrahita adalah sebutan untuk orang yang tidak bisa banyak berbicara. Tak bisa banyak membantu. Kerjanya hanya bisa membuat keset. Itu tidak terlepas dari apa yang terjadi di lingkungan sekitar rumahnya. Yang dikenal dengan julukan kampung idiot. Namun, ketika ditanya, apakah orang tuanya termasuk tunagrahita, Bunga hanya menggeleng kepala. ‘’Tidak tahu,’’ ucapnya.

Sebelum berkutat dengan keset, Boinah dan Semedi banyak membantu Eko Mulyadi, lurah Desa Karangpatihan. Mulai dari membantu pekerjaan di sawah sampai urusan rumah tangga. Sedari 2013 silam, perlahan namun pasti, kedua orang tuanya mampu mendapatkan tambahan penghasilan dari berjualan keset. ’’Per lembarnya tujuh ribu,’’ katanya.

Pelajar kelas III SDN 2 Karang Patihan ini mengaku senang melihat ayah ibunya punya tambahan kesibukan yang menghasilkan. Bisa memberikan uang saku bagi Bunga Rp 2.000 per hari. Hanya, jam kerja membuat keset tidak menentu. Sehari, pasutri ini bisa membuat dua keset. ‘’Kadang-kadang bikin dari pagi sampai sore hingga malam. Kadang nggak bikin sama sekali,’’ bebernya.

Bocah sepuluh tahun ini juga memiliki pendapatan tambahan. Dari pengunjung rumah harapan lokal maupun mancanegara. Berkat rasa percaya diri dan keberanian yang dia miliki, Bunga kerap dipercaya tamu mengantar ke sejumlah rumah atau anggota keluarga yang  mengalami tunagrahita. Untuk beragam keperluan, menjadi tour guide cilik. Jika yang datang wartawan, dia ringan kaki mengantar ke rumah-rumah  penyandang disabilitas. ‘’Terus  dikasih uang. Besarannya macam-macam,’’ urainya.

Sehari-harinya, Bunga tinggal seatap dengan kedua orang tua. Dan, adiknya yang masih balita. Juga, kedua nenek dan kakeknya yang kerap membantunya memenuhi keperluan sekolah. ‘’Kalau nggak masuk sekolah dicari guru sampai ke rumah,’’ ungkapnya.

Bungsu dua bersaudara ini bercita-cita menjadi guru matematika atau bahasa Inggris. Sebab, dia suka pelajaran hitung-hitungan. Semasa di pendidikan anak usia dini (PAUD), dia juga mengagumi  gurunya yang lancar berbahasa asing, ‘’Di sini, pernah ada tamu dari Inggris. Kalau bisa bahasanya, bisa tanya-tanya,’’ pungkasnya. ***(fin/c1)

(tulisan ini sudah tayang di http://radarmadiun.co.id/karangpatihan-bukan-kampung-idiot-hidup-bahagia-penyandang-mental-istimewa/

Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Ini Tetap Semangat Bersekolah

PAPAN bertuliskan SLB Aisyiah menggantung dekat atap sebuah bangunan di Jalan Ukel Gang II, Kertosari, Babadan. Dari pelataran SLB Aisyiah itu, sejumlah perempuan berjilbab tampak beralaskan tikar. Mereka tengah menunggu anaknya pulang.

Di dalam rumah dua lantai itu terdapat empat ruang  kelas. Dari luar terdengar riuh suara anak-anak memenuhi setiap ruangan. Di salah satu ruang kelas, Rischi Cahyasari terlihat serius mengajar empat muridnya yang berkebutuhan khusus. ‘’Ini angka berapa Syaiful, Keisha, Izza, Sheila?’’ tanya Rischi sembari menunjuk sebuah angka di papan tulis.

Dari keempat anak itu, hanya Syaiful yang menjawab pertanyaannya. Keisha seolah tidak peduli. Sedangkan Izza memilih membolak-balikkan  lembar Alquran sambil bersuara seolah mengaji. Sementara, Sheila hanya terdiam dengan menatap kosong ke papan tulis. ’’Keisha perutnya masih sakit? Ayo, diperhatikan sekarang, Ibu mau menggambar,’’ lanjut Rischi.

Pengenalan angka usai, berlanjut pelajaran berhitung. Rischi lantas menggambar sebuah mobil, dua buah donat, tiga cangkir, empat bintang, dan lima kelopak bunga. Kemudian, meminta Sheila maju menuliskan jumlah di setiap gambar tersebut.

Sembari memandu Sheila berhitung, sesekali perhatian Rischi tertuju kepada empat murid lainnya. Tidak lama berselang, Syaiful –siswa yang paling kecil- merengek minta pulang sambil menangis. ‘’Iya, sebentar lagi pulang,‘’ kata Rischi.

Pelajaran terhenti sesaat sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 11.00, saatnya pulang. Semua anak diminta mengangkat kedua tangannya. Namun, tidak bisa berlama-lama. ‘’Seperti Syaiful itu tidak bisa mengangkat tegak kedua tangannya, hanya separo. Itu pun hanya bisa sebentar karena fisiknya lemah,’’ ungkapnya.

Bocah-bocah itu lantas memasukkan buku-bukunya ke tas. Sementara, dari bilik jendela kelas, seorang perempuan berjilbab hitam sudah menanti Keisha, buah hatinya. Dibantu Rischi, Keisha dipapah keluar dari kursi dan berjalan dua tiga langkah sampai akhirnya meminta jalan sendiri.

Keisha berjalan ngesot menggunakan kedua tangannya. Mengangkat tubuhnya sedikit demi sedikit keluar dari pintu kelas. Bocah itu akhirnya digendong ke atas jok motor, bersiap pulang. ‘’Rumahnya (Keisha, Red) Sawoo, ke sini 45 menitan. Kalau dibonceng pakai motor diikat sabuk biar nggak jatuh,’’ paparnya.

Rischi menyebut, semangat anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) itu patut diacungi jempol. Setidaknya, wajah mereka berseri setiap kali bertemu teman-temannya di sekolah. Meski begitu, mereka tidak dituntut secara akademik. Melainkan lebih pada kemandirian.

Izza, misalnya, bocah tunadaksa itu semula hanya bisa mewarna bebas di kertas. Namun, kini telah mampu menggoreskan warna di dalam garis. Itu sudah dianggap sebuah kemajuan. Pun dia yang semula tidak bisa berjalan, akhirnya bisa melakukan aktivitas itu. ‘’Dari yang semula nggak bisa mengancingkan baju atau memasukkan buku ke tas akhirnya bisa mandiri,’’ bebernya.

Dari kelima muridnya itu, mayoritas tunadaksa sedang. Hanya Sheila yang down syndrome.  Meski usianya sudah menginjak belasan tahun, masih seperti anak-anak. Ada pula siswa yang selama ini lebih sering duduk di luar kelas. ‘’Tapi, kalau di kelas ada yang sedang menyanyi dan dirasanya menarik, dia baru masuk,’’ ujarnya.

SLB Aisyiah saat ini memiliki 47 siswa. Dua di antaranya sudah lama tidak masuk sekolah. ‘’Sebenarnya rumahnya dekat-dekat sini saja, tapi katanya orang tuanya sibuk kerja, jadi tidak ada yang ngantar,’’ sebut Rischi.

Kepala SLB Aisyiah Wahyu Setyaningsih menambahkan, lembaganya sejatinya masuk kategori SLB A yang fokus mendidik tunanetra. Namun, atas pertimbangan permintaan masyarakat, sekolahnya akhirnya juga menampung anak selain tunanetra. ‘’Murid sini kebanyakan tinggal di asrama,’’ katanya. (dil/c1/isd)

(artikel ini juga bisa dilihat di http://radarmadiun.co.id/harapan-di-tengah-keterbatasan-anak-berkebutuhan-khusus-tetap-semangat-bersekolah/ )

”Anak-anak tidak malu saya jadi badut,”

RESTYOYANTI melirik jam dinding tua. Waktu menunjukkan pukul 17.00. Meraih tas kecil warna cokelat lalu diselempangkanke bahu begitu saja berjalan keluar Jalan Gatokaca. Sesampainya di alon-alon Ponorogo langkah kaki Restyoyanti berhenti dibawah pohon beringin. Duduk di perapian pohon dikeluarkannya kostum badut dari dalam tasnya. Dimulai dari memakai  baju warna-warni terusan badut. Wig warna-warni yang menyatu dengan topeng dengan hidung mancung bulatan merah khas badut. Sentuhan terakhir agar semakin mirip badut adalah bola pastik yang sudah agak kempis. Dimasukkan ke dalam tas. Sehingga, ketika resleting kostum tertutup rapat terlihat menonjol di bagian perut. ‘’Kalau nggak ada ini (menunjuk perut) kurang lucu dan tidak seperti badut,’’ kata Restyoyanti.

Perhatiannya lantas beralih ke sebuah kaleng botol minuman yang sudah dipotong setengah bagian. Dan dilapisi kertas karton kuning. Di dalambatol terdapat batang kayu dibagian ujung kepingan tutup botol minuman dipaku. Melangkah menyusuri trotoar aluna-alun perempuan 45 tahun ini bersiap nggenjreng dari satu warung ke warung, ‘’Kalau alon-alon sepi ke Jalan Baru. Cuma muter di dua tempat ini saja,’’ imbuhnya.

Setiap ada warung didatanginya. Tangan kirinya menari-nari, sementara tangan kanan menepuk-nepukkan alat genjrengan itu. Penampilan Restyoyanti kian  lucu saat digoyangkannya panggul ke kanan dan kekiri, ‘’Sebenarnya saya ada tape tapi akinya rusak, suaranya nggak maksimal jadi pakai ini (menunjuk kayu),’’ ujarnya.

Jika menggunakan tape dengan kostum badutnya dia akan berjoget diiringi beragam genre musik. Mulai dari lagu anak-anak, campursari, sampai koplo . Jika yang ditemui anak-anak lagu Selama Ultang Tahun jadi yang paling sering diputar. Sebaliknya, apabila sekelompok ibu-ibu maupun bapak-bapak maka  disetel dangdut dan campursari, ‘’Menyesuaikan,’’ terangnya.

Ibu dua anak ini sudah lama jadi pengamen badut. Sebelumnya, dia biasa ngamen tanpa kostum itu. Lantaran terancam razia dari satpol PP. Muncul inisiatif nggenjreng dengan kostum badut. Kebetulan, teman suami, juga seorang badut. Dari temannya itu dia memesan dua buah kostum badut. Pakaian inilah yang setia menemani Restyoyanti mengasi rejeki menjadi badut, ‘’Dipakainya gonta-ganti,’’ ujarnya.

Restyoyanto terpaksa bekerja pengamen badut.  Penghasilan suami dari berjualan telur puyuh kurang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Biasanya, mulai ngamen dari sore sampai malam hari. Uang yang  dikantongi juga tidak seberapa. Mentok kalau ramai sekitar  Rp 55.000. Lantaran bersaing dengan pengamen lain, ‘’’Sehari-hari Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu, mentok-mentok ya itu (Rp 55 ribu),’’ bebernya.

Sejatinya, dia asli warga Kota Madiun. Namun, bersama suami sengaja menetap di Ponorogo. Keduanya mebangun biduk rumah tangga ngekos di bumi reyog. Memasuki perayaan festival budaya  grebeg suro  menjadi ladang rejeki. Namun belum menjamin ramainya penonton mengkerek penghasilannya. Bertahun menjadi  pengamen badut suka duka turut dialami, ‘’Sukanya itu bisa menghibur orang terutama anak kecil. Lihat anak kecil tertawa saya sudah senang. dukanya kalau malam takbir tetap kerja keliling kebayang keluarga dirumah,’’ paparnya.

Apabila bertemu seorang perempuan tua duduk seorang diri dipastikan  Restyoyanti mendatangi untuk menghibur dengan jogetan dari panggulnya. Perempuan paro baya ini selalu teringat ibunya yang sudah meninggal puluhan tahun silam, ‘’Ibu saya sakit jantung bapak sakit tulang. Karena nggak ada biaya saya nggak bisa ngantar mereka (orangtua) berobat. Saya yatim piatu,’’ terangnya.

Usai menikah, dia dikaruniai dua orang anak. Bersama suami  banting tulang mencukupi kebutuha keluarga. Meski harus legawa, hanya mampu mensekolahkan anak sampai tamat SMP. Kini, putri sulungnya sudah menikah dan dikaruniai dua cucu. Sementara yang nomor dua tamat sekolah lanjut  bekerja, ‘’Anak anak saya tahu (ngamen badut) mereka nggak  malu, katanya (anak anak) yang penting halal dan bukan mencuri,’’ akunya.

SISWA PERBATASAN MINIM TRANSPORTASI

Angkutan gratis sekolah masuk desa kenapa tidak ? Dinas Perhubungan (Dishub) Ponorogo menyampaikan signal positif kesempatan program Angkutan Cerdas  Sekolah (ACS)  ini merambah ke wilayah pedesaaan bumi reyog. Menyusul setelah pihak komite  SMPN 1 Badegan  yang berharap Pemkab Ponorogo mempertimbangkan moda transprtasi pelajar di wilayah tersebut. ‘’Oke sangat setuju,’’ kata Kepala Dishub Ponorogo Djunaedi kepada Radar Ponorogo kemarin (11/9).

Djunaedi mengatakan,  banyak hal yang perlu disiapkan untuk mewujudkan gagasan tersebut. Sebab, di awal peluncuran ACS, memang dipersiapkan sebagai angkutan pelajar dari luar kecamatan ke dalam kota. Sementara angkutan pelaajr dari luar kecamatan menuju daerah perbatasan  Ponorogo belum ada. Dia berkomitmen bakal mengkoordinasikan permasalahan ini dengan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni selaku agigator program ACS. ‘’Kami akan koordinasi dengan bupati kalau boleh berarti harus ada tambahan anggaran,’’  bebernya.

Jikalau nanti ide ini mendapat restu dari orang  nomor satu di Ponorogo ini angkota desa (angkodes) menjadi  solusi alternatif permasalahan ini. Dengan dijalankannya moda transportasi masal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sopir angkodes. Angkodes kembali ramai dan eksis seperti yang dirasakan program ACS saat ini. ‘’Mengapai pakai angkodes  salah satunya ingin membangkitkn transportasi yang saat ini sulit cari penumpang, UKM (Usaha Kecil Menengah),’’ jelasnya.

Bukan hanya itu, juga mendukung program nasional dalam hal mengurai kepadatan arus lalu lintas. Lantaran  banyaknya kendaraan pribadi tidak diimbangi dengan kondisi jalan yang sempi. Sehingga, diharapkan masyarakat dapat memaksimalkan penggunaan transportasi massal. Hanya saja, diakui Djuanedi angkodes ini perlu peremajaan agar memberikan kondisi nyaman bagi penumpangnya. ‘’Dan keselamatan yang terjamin perlu peremajaan angkutan pedesaan,’’ imbuhnya sembari menyebut saat ini dari 250 angkodes tersisa 80 kendaraan yang saat ini masih beroperasi.

Diberitakan Rdar Ponorogo sebelumnya, sejumlah pelajar  SMP 1 Badegan rela berdesakan di dalam bus jurusan Ponorogo – Wonogiri. Bus ini menjadi satu-satunya kendaraan alternatif yang dipilih siswa dari sekolah tersebut untuk pulang-pergi dari sekolah menuju kawasan Biting, Badegan sampai daerah Purwontaran, Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Dimana jarak antara  SMPN 1 Badegan ini ke kawasan tersebut  sekitar lima kilometer. Sementara demi keselamatan siswa, pihak sekolah melarang siswa berkendara sepeda motor ke sekolah. (dil)

KUBUR CITA-CITA DEMI MERAWAT AYAH TERCINTA

Gadis itu malu menyebutkan nama aslinya. Di usianya yang masih belia, dia kubur dalam-dalam impiannya. Merengkuh pendidikan selayaknya anak-anak sepantarannya. Hari-harinya diisi menunggui ayah tercinta yang terbaring sakit tak berdaya.

———-

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

RAMBUTNYA yang bergelombang sebahu menutupi wajahnya ketika menunduk. Siang itu, gadis 15 tahun itu ’’reuni kecil’’ bersama Ananda. Teman sekolahnya di SDN 04 Karangpatihan. Keduanya duduk berhadapan di rumah beralaskan tikar. Rumahnya di kaki Gunung Banong. Di atas ketinggian Desa Tanggungrejo, Kecamatan Balong. ‘’Dolano rene to. Awakmu ra tau dolan rene,’’ kata gadis itu melepas rindu menyambut kedatangan teman lama tersebut di rumahnya Rabu (14/8).

Semasa di sekolah dasar, kedua remaja itu berteman dekat. Tinggalnya pun bersebelahan desa. Jika Ananda melanjutkan sekolah, tidak dengan dirinya. Saat kami bercengkerama bertiga, seorang perempuan parobaya masuk ke rumah sembari membawa kayu bakar. ‘’Ibu nggak bisa bahasa Indonesia,’’ terangnya.

Di rumah itu, dia tinggal bersama ayah dan ibu. Neneknya meninggal dunia sebulan lalu. Kedua kakaknya tinggal di luar kota. Kakeknya yang tinggal di rumah lain bekerja seadanya di sawah. ‘’Bapak sakit. Harus bolak-balik suntik ke dokter,’’ ungkapnya.

Saat pertama kali masuk sekolah dasar 2010, dia baru lulus 2019. Sempat tidak naik kelas tiga kali, sewaktu kelas I-III. Tetapi, tetap semangat belajar meski saat lulusnya sudah menginjak usia 15 tahun. Dari sepuluh murid yang lulus ketika itu, hanya dia yang tidak melanjutkan sekolah karena harus mengurus orang tua. ‘’Bantu-bantu di rumah dan kerja,’’ ujarnya.

Belum lama ini, dia menerima pesan singkat dari salah seorang guru SD-nya. Menanyakan kelanjutan sekolahnya. Sebelum meninggal dunia, neneknya yang mengurusi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. ‘’Kalau simbah masih ada, saya sekolah,’’ ungkapnya.

Selain mengurus orang tua dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sesekali dia bekerja di rumah tetangga. Diupah Rp 5.000 sampai Rp 20 ribu sehari. ‘’Kalau ada kerjaan, ya kerja. Kalau nggak, di rumah saja.’’ Dari kakaknya, dia mendengar adanya lowongan kerja sebagai pengasuh di Madiun. Rencananya, November mulai bekerja. ‘’Kakak-kakak saya sekolahnya juga sampai SD,’’ imbuhnya. ***(fin/c1)

(artikel ini juga terbit di website radarmadiun.co.id) akan ada behind the scene dari kisah ini.

SEMANGAT OKAN TAK PERNAH PADAM

Setelah menengok kanan-kiri memastikan kondisi aman, keduanya berlari kecil menyeberangi jalan. Langkah Okan dan Rangga terhenti di sebuah gazebo area pasar wisata. Keduanya lantas melepas sepatu, lalu melanjutkan perjalanan pulang.

PHOTO: DILA RAHMATIKA

Dari kawasan pasar wisata, keduanya melintasi jembatan gantung bercat warna-warni yang kini dikenal dengan sebutan Jembatan Pelangi. Keduanya tampak berlari riang saat melintasi jembatan dengan panjang sekitar 100 meter itu.

Mengenakan seragam merah putih, Okan Anugerah Pratama bersama Rangga temannya terlihat baru saja keluar dari gerbang SDN Biting. Keduanya hendak menyeberangi Jalan Raya Ponorogo-Solo yang siang itu ramai lalu-lalang kendaraan.

Sampai di ujung jembatan, keduanya berpisah. Rangga melanjutkan perjalanan menuju Dusun Temon, Biting, Badegan. ‘’Rumah saya tinggal belok sudah sampai. Kalau Okan setelah musala itu masih belok-belok lagi,’’ kata Rangga.

Di bawah terik sinar matahari, kedua tangan Okan menenteng sepatu. Sementara, kaus kakinya tersembunyi di dalamnya. Lantaran jalanan yang beraspal itu banyak lubang, Okan memilih berjalan di cor-coran semen drainase.

Jalannya setengah menanjak dan berkelok. Mengitari area persawahan dan permukiman warga. Radar Ponorogo membuntuti Okan dari belakang dan sempat menawari tumpangan menuju rumahnya. Namun, bocah itu menggeleng.

Sudah berjalan sekitar 1 kilometer lebih rumah Okan tak kunjung terlihat. Sampai akhirnya di tengah perjalanan seorang pria parobaya tanpa menggunakan helm dengan motor bebek lawas berhenti di sampingnya. Seketika, Okan dibonceng laki-laki itu menuju rumahnya.

Setelah berkendara selama hampir 20 menit, motor itu memasuki pekarangan rumah. Dari daun pintu terlihat Warni, ibu Okan, menyambut dengan membawakan tas putranya yang terlihat cukup berat itu. ‘’Itu tadi pakdenya,’’ katanya.

Sembari menenggak air putih, wajah Okan terlihat menghitam dan memerah. Meski begitu, Okan langsung mengeluarkan buku hendak mengerjakan sejumlah pekerjaan rumah (PR) dari sekolah. Tidak lama berselang, sang ibu menyodorkan sepiring nasi dan telur. Dirapikannya buku-buku ke dalam tas lalu dilucutinya seragam sekolah yang melekat di badannya. ‘’Sejak masih PAUD dia biasa jalan kaki. Nggak punya motor buat ngantar,’’ beber Warni.

Lantaran jarak rumah dan sekolah cukup jauh, setiap hari Okan sudah bangun pukul 04.30. Setelah mandi dan berkemas, lalu berangkat pukul 06.00. ‘’Sampai sekolah sekitar setengah jam,’’ imbuhnya.

Warni menceritakan, Okan sesekali mengeluh lelah. Jika sudah begitu, biasanya kedua kakinya diurut sang nenek. ‘’Sepatune niku dicopot mergi sumuk ngotenNggih kadang dilebetaken tas,’’ ungkapnya.

Warni merasa waswas. Pasalnya, Okan tidak biasa sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Karena itu, dia memberi uang saku Rp 3.000. Biasanya untuk membeli nasi seharga Rp 2.000. Sisanya untuk membeli minuman. (dil/c1/isd)

(artikel ini sudah tayang di http://radarmadiun.co.id/semangat-okan-menuntut-ilmu-tak-pernah-padam/

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai