Pengasuh Dua Panti Duafa di Jetis Ini Sabar Temani Orang-Orang Telantar

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

Lama hidup di jalanan menebalkan rasa kepedulian Rama Philips. Seratusan orang-orang telantar ditampungnya dengan sukacita. Saban hari merawat mereka seperti keluarga sendiri.

SITI. Hanya dengan sepenggal nama itu dia memperkenalkan diri. Dua tahun lalu, dia duduk sendiri di Pasar Jenangan. Tanpa siapa pun yang menemani. Saat ditanyai, berulangkali hanya mengucapkan Surabaya. Tetapi, Surabaya-nya mana, tak ingat lagi. Warga pun berinisiatif mengantarkan nenek 70-an tahun itu ke polsek yang kemudian diantarkan ke panti duafa lansia asuhan Rama. ‘’Mbah Siti ini termasuk yang eliminasinya (BAB) tidak terkontrol. Makanya, kami tempatkan di ruang isolasi,’’ kata Rama Philips, pengasuh panti duafa lansia ini.

Di sudut lain, Suhud duduk di depan pintu. Matanya menerawang jauh. Melamun. Kakek 65 tahun itu tercatat sebagai penghuni baru. Baru diantarkan tenaga sosial dari Caruban kemarin siang (31/7). Dia pun ditemukan duduk seorang diri di tepi jalan Desa Sukorejo, Saradan, Madiun. ‘’Lastri…. Pondok Labu.’’ Kalimat itu terucap samar dari kakek yang sudah ompong tersebut. ‘’Lastri itu nama kakak perempuannya. Tinggalnya di Pondok Labu. Itu di mana, dia lupa,’’ timpal Rama.

Yang baru digali Rama,  Suhud hijrah dari Madiun dan tinggal bersama kakaknya di Pondok Labu. Beberapa kali Suhud juga menyebut Yasirin dan Kartinem. Matanya sembap setiap memanggil nama kedua orang tuanya itu. Dia pun sempat berkata masih punya saudara di Madiun. ‘’Taman, omahe Taman,’’ ucapnya lirih menyebut nama salah satu kecamatan di kota itu.

Saat hari beranjak siang, Suhud minta dituntun memasuki ruangan. Lantas barbaring di atas dipan kayu sederhana sambil mengangkat pakaian yang dikenakannya. Baju batik hijau pupus dan celana kain biru. ‘’Penempatan lansia disesuaikan kondisinya,’’ terang Rama.

Laki-laki dan perempuan di ruangan khusus lansia produktif itu bersebelahan. Disekat tripleks. Mereka rata-rata jebolan panti rehabilitasi sosial yang telah dinyatakan sembuh setelah dirawat di rumah sakit. Namun, tak berumah dan berkeluarga. Sehari-hari mereka diberdayakan untuk membantu pengasuhan panti yang didirikannya. ‘’Ada delapan lansia,’’ sebutnya.

Penghuni lansia menempati panti di RT 2 RW 3, Dusun Mantup, Desa Ngasinan. Penghuni anak-anak menempati panti di di RT 1 RW 1, Dusun Manding, Desa Turi. Keduanya berada di Kecamatan Jetis. Dari keseluruhan penghuninya, ada pula yang berlatar belakang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). ‘’Yang dirawat di sini dari eks Karesidenan Madiun,’’ jelas Rama.

Setibanya pria 35 tahun ini di kamar lansia tidak produktif disambut mbah-mbah yang berbaring di atas dipan yang terbuat dari semen. Berbentuk persegi menyerupai dipan dilapisi kasur busa. Sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan yang berbau, Rama berbincang akrab dengan penghuni kamar ini. ‘’Lantai bangunan ini harusnya dibuat lebih tinggi sekitar 5 sentimeter. Seperti gedung lainnya. Agar mudah untuk membersihkan (air mani dan BAB),’’ ungkapnya.

Rama menjelaskan, meskipun namanya panti lansia, tidak semua penghuninya adalah  lansia. Ada pula kelompok usia yang diperkirakan di bawah  50 tahun. Pun, sebagian warga panti yang dirawat  berlatar belakang orang dengan gangguan jiwa (ODJG). Pada ODGJ ini sebagian besar drop dari dinas sosial. ‘’Di sini nggak hanya dari Ponorogo, ada Madiun kota/kabupaten, dan sekitarnya,’’ sebutnya.

Sejak diresmikan Agustus 2018, panti ini hanya berkapasitas 75 orang. Permintaan dari berbagai daerah cukup banyak. Hanya, Rama tak bisa memaksakan. Kenyamanan hunian tetap harus dipertimbangkan. Jangan sampai overload. Rama juga mendirikan panti di Ngasinan, Jetis. Dikhususkan untuk mengasuh duafa anak-anak.  ‘’Ada enam anak yang dulunya tinggal di jalanan ikut orang tuanya mengemis. Saja ajak ke sini semua. Orang tuanya bantu-bantu di panti, anaknya disekolahin,’’ terangnya.

Besarnya jiwa sosial tidak tertanam begitu saja di benak Rama. Perjalanan hiduplah yang memantapkan hatinya melakoni tugas mulia ini. Enam tahun lamanya dia pernah menjadi pemulung di Bumi Reyog ini. Mendirikan rumah seadanya beratapkan terpal di dekat pabrik es. Sempat terpuruk ketika istrinya meninggal dunia. Perlahan, Rama mencoba bangkit dengan merintis jasa servis lampu demi mencukupi kebutuhan hidup bersama kedua anaknya. ‘’Harga rongsok turun, saya milih servis lampu. Ilmunya dapat dari sering main ke tempat servisan televisi,’’ kenangnya.

Singkat cerita, Rama yang semula hidup seadanya ketiban berkah booming batu akik. Sekitar 2014, dia mulai jual-beli batu akik hingga meraup keuntungan jutaan. Sayangnya, hanya bertahan enam bulan. Sisa batu akik yang ada lantas disumbangkannya ke pondok pesantren. Dia pun kembali menekuni jasa servis lampu dibantu istri keduanya. ‘’Sambil jual beli online sampai sekarang. Juga, antar-jemput TKW dari Ponorogo,’’ paparnya.

Kondisi ekonomi membaik, Rama teringat orang-orang telantar yang kerap ditemuinya semasa memulung. Dia pun mantap merintis panti sosial. Masa-masa awal, dia merawat sendiri sembilan lansia asuhannya. Dari memandikan hingga memberi makan hasil masakan istrinya. Semula ditempatkan di sebuah rumah kontrakan sederhana di Cekok, Babadan. Hingga sanggup membangun panti yang berdiri sampai sekarang. ‘’Saya tahu rasanya kelaparan, dikucilkan, hidup serbasusah,’’ pungkasnya. *** (fin/c1)

(artikel ini sudah tayang di http://radarmadiun.co.id/jalan-cerita-pengasuh-dua-panti-duafa-di-jetis-sabar-temani-orang-orang-terlantar/ )

Merdeka dari Kursi Roda

Impian Ahmad Fata Ali Akbar sama. Ingin berjalan dan berlarian seperti teman-teman sepantarannya. Merdeka. Tanpa dituntun orang tua dan tanpa duduk di atas kursi roda. Dengan segala keterbatasan, dia terus berjuang melawan kelumpuhan sejak balita.

————————

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SEPULANG sekolah, Fata berjalan ngesot dari pintu menuju kamar. Seragam merah putih diloloskannya. Tutik Lusiana, ibunya, datang menghampiri. Membantu putranya mencopot celana lalu menggendongnya ke kursi roda menghadap televisi. Tak ingin melewatkan episode kartun favoritnya yang rutin ditayangkan televisi swasta setiap siang. Sembari memainkan smartphone hitam layar 4 inci. Bocah sembilan tahun itu memuaskan hasratnya menyaksikan beragam video kesukaannya. Menggunakan akun e-mail yang diberinya nama Fata Toys Toys, jemarinya lincah berselancar di kolom penelusuran media sosial. YouTubers Rendy Rangers menduduki peringkat teratas di berandanya. Serius menyimak strategi memborong diamond royale dalam Free Fire. ‘’Ini game online,’’ katanya menjelaskan game bergenre Battle Royale dari androidnya itu.

Putra semata wayang Miswanto-Tutik Lasiana ini pun gemar menonton video pementasan reyog. Fata pun memamerkan deretan video reyog dan jaranan di folder download YouTube-nya. Suatu malam, dia pernah merengek pada kakeknya untuk diantarkan melihat pertunjukan reyog di seberang desa. Dia mendengar sayup-sayup instrumen reyog dari seberang desa. Tetapi, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. ‘’Nggak jadi, sudah malam,’’ kenang pelajar kelas IV SDN 01 Coper ini.

Anak yang tinggal di Jalan Mangga, RT 1, RW 2, Dusun Ngrayuh, Kecamatan Jetis, ini ingin menjadi dokter. ‘’Biar dapat uang banyak,’’ tuturnya. Tak terhitung sudah, orang tuanya wira-wiri mengupayakan kesembuhan fisik putra semata wayangnya ini. ‘’Sudah nggak kehitung. Dokter dan alternatif sudah kami datangi,’’ kata Tutik.

Masih lekat dalam ingatan, ketika Fata berusia satu tahun. Dia kesulitan mengangkat kepala. Sampai satu setengah tahun, belum menunjukkan tanda-tanda bisa berjalan kaki. Tutik lantas menunjukkan pigura di sudut dinding rumahnya. Fata berpose di atas sebuah kursi. Duduknya agak miring. ‘’Duduknya nggeleyot-nggeleyot,’’ ucap ibunya.

Segala macam pengobatan medis dan alternatif sudah ditempuh. Mulai dari dokter spesialis saraf hingga mendatangkan fisioterapi. Di RSUD dr Hardjono, Fata sempat menjalani terapi. Seminggu dua kali, terapi sinar X selama 4-5 bulan. Belakangan, saudara Tutik, perawat di RS Muslimat Ponorogo, menyarankan agar Fata melakukan scan saraf. Biaya yang harus dikeluarkan Rp 2,5 juta. Namun, pendapatan kedua   yang penjual mainan itu tidak menentu. Sampai detik ini, akhirnya belum scan. ‘’Satu juta saja ibarate wes (menghela napas berat, Red),’’  katanya.

Beruntung, keluarga ini masih memiliki asuransi kesehatan (askes) yang meringankan biaya pengobatan medis. Tetapi, berbagai pengobatan alternatif yang dilakoni cukup menguras kantong. Pengobatan alternatif terakhir, pijat saraf di Mlilir, Dolopo, empat bulan lalu. ‘’Setelah itu nafsu makannya bertambah. Sebelumnya susah makan. Makanya kalau puasa, senang. Ramadan kemarin, puasanya full sampai magrib. Fata juga sudah ngaji sampai juz 20,’’ beber ibunya.

Kelumpuhan kaki tak lantas mengecilkan niatan Fata untuk menggapai cita-cita. Di sekolahnya, Fata dikenal sebagai siswa yang rajin. Kepala SDN 1 Coper Sugeng Irianto mengaku bangga. Sejak duduk di bangku kelas I sampai IV ini, ketidakhadirannya bisa dihitung jari. ‘’Dia absennya hanya pas berobat,’’ tuturnya.

Dengan keterbatasan yang ada, Fata pun lebih sering berada di dalam kelas. Dia memiliki teman karib yang biasa membantunya membelikan jajanan ketika jam istirahat. ‘’Fata tidak kesulitan mengikuti pelajaran,’’ terangnya. *** (fin/c1)

Mengunci INGATAN

Kali pertama mendengar lagu mengunci ingatan barasuara beberapa bulan lalu saat nonton web series judulnya Mengakhiri cinta dalam 3 episode di youtube. Nemu web series ini juga nggak sengaja. Penasaran karena muncul terus di beranda youtube. Jadi, dalam web series ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang sudah pacaran 8 tahun (*kalau nggak salah) dan sudah mempersiapkan pernikahan. Tiba-tiba cowoknya yang diperankan oleh Dion Wiyoko ini minta putus. Dengan alasan nggak cinta.

Singkat cerita, keduanya putus. Dengan dramatis dan konflik, tapi realistis . Nggak lebay kayak sinetron dan FTV. Nah, di akhir episode web series ini, toyota selaku produser web series ngasih kuis buat penonton untuk menebak ending cerita ini. Sepasang kekasih ini kembali bersatu alias CLBK an atau putus untuk selamanya. 

Aku sih nggak ikutan kuisnya hahaha.Cuman nebak aja di dalam hati. Well, Web series ini cuman 3 episode. Nunggu episode 4 itu rasanya lama banget. Saking penasaran sama endingnya. Aku sampai subscribe channelnya toyota haha. After long time, pas lagi asyik ngtik tiba-tiba muncul notif. Buru-buru langsung lihat. Taraaaa ternyata ending ceritanya sama kayak yang aku tebak. Yaps,Di episode 4 inilah dikasih jawabnnya.

Yang unik dari web series ini adalah kreativitas si sutradara dan penulis naskahnya, Yandy Laurens. Seriously, setiap scene itu halus banget. Ngacak aduk emosi yang nonton. Termasuk scene ketika dua kekasih ini tiba-tiba bisa dengerin kata batinnya masing2. Meskipun memang dibuat gak logic. Tapi,kelihatan natural. Ditambah suara lembutnya Tulus menyanyikan lagu mengunci ingatan. Nge-cover tembangnya barasuara ini.

 

 Sekilas aku lihat sih belakangan di youtube banyak bermunculan web series untuk promosi produk perusahaan. Pertama tropica dengan web seriesnya yang berjudul Sore, JD ID web seriesnya kenapa belum menikah ?, sama produk rumah tangganya dari brand kenamaan juga. 

Ngema sih ke penonton. Waktu mereka nonton web seriesnya nggak menyangka kalau di susupi iklan secara halus. Dari yang aku baca komen netizen di chanelnya toyota. Banyak yang apresiasi cara ngiklan ini. Minimal ingat web series ini jadi ingat produknya. 

Kedua, pertanyaan untuk kalian pernah pacaran lama 8 terus putus endngnya kalian milih balikan lagi atau enggak ?

 

Kalau aku sih, di awal hubungan, kalau dijadikan pacar. Nggak mau, mending Langung aja ke pelaminan kalau emang serius loh. Hehe

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai