Impian Ahmad Fata Ali Akbar sama. Ingin berjalan dan berlarian seperti teman-teman sepantarannya. Merdeka. Tanpa dituntun orang tua dan tanpa duduk di atas kursi roda. Dengan segala keterbatasan, dia terus berjuang melawan kelumpuhan sejak balita.
————————
DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo
SEPULANG sekolah, Fata berjalan ngesot dari pintu menuju kamar. Seragam merah putih diloloskannya. Tutik Lusiana, ibunya, datang menghampiri. Membantu putranya mencopot celana lalu menggendongnya ke kursi roda menghadap televisi. Tak ingin melewatkan episode kartun favoritnya yang rutin ditayangkan televisi swasta setiap siang. Sembari memainkan smartphone hitam layar 4 inci. Bocah sembilan tahun itu memuaskan hasratnya menyaksikan beragam video kesukaannya. Menggunakan akun e-mail yang diberinya nama Fata Toys Toys, jemarinya lincah berselancar di kolom penelusuran media sosial. YouTubers Rendy Rangers menduduki peringkat teratas di berandanya. Serius menyimak strategi memborong diamond royale dalam Free Fire. ‘’Ini game online,’’ katanya menjelaskan game bergenre Battle Royale dari androidnya itu.
Putra semata wayang Miswanto-Tutik Lasiana ini pun gemar menonton video pementasan reyog. Fata pun memamerkan deretan video reyog dan jaranan di folder download YouTube-nya. Suatu malam, dia pernah merengek pada kakeknya untuk diantarkan melihat pertunjukan reyog di seberang desa. Dia mendengar sayup-sayup instrumen reyog dari seberang desa. Tetapi, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. ‘’Nggak jadi, sudah malam,’’ kenang pelajar kelas IV SDN 01 Coper ini.
Anak yang tinggal di Jalan Mangga, RT 1, RW 2, Dusun Ngrayuh, Kecamatan Jetis, ini ingin menjadi dokter. ‘’Biar dapat uang banyak,’’ tuturnya. Tak terhitung sudah, orang tuanya wira-wiri mengupayakan kesembuhan fisik putra semata wayangnya ini. ‘’Sudah nggak kehitung. Dokter dan alternatif sudah kami datangi,’’ kata Tutik.
Masih lekat dalam ingatan, ketika Fata berusia satu tahun. Dia kesulitan mengangkat kepala. Sampai satu setengah tahun, belum menunjukkan tanda-tanda bisa berjalan kaki. Tutik lantas menunjukkan pigura di sudut dinding rumahnya. Fata berpose di atas sebuah kursi. Duduknya agak miring. ‘’Duduknya nggeleyot-nggeleyot,’’ ucap ibunya.
Segala macam pengobatan medis dan alternatif sudah ditempuh. Mulai dari dokter spesialis saraf hingga mendatangkan fisioterapi. Di RSUD dr Hardjono, Fata sempat menjalani terapi. Seminggu dua kali, terapi sinar X selama 4-5 bulan. Belakangan, saudara Tutik, perawat di RS Muslimat Ponorogo, menyarankan agar Fata melakukan scan saraf. Biaya yang harus dikeluarkan Rp 2,5 juta. Namun, pendapatan kedua yang penjual mainan itu tidak menentu. Sampai detik ini, akhirnya belum scan. ‘’Satu juta saja ibarate wes (menghela napas berat, Red),’’ katanya.
Beruntung, keluarga ini masih memiliki asuransi kesehatan (askes) yang meringankan biaya pengobatan medis. Tetapi, berbagai pengobatan alternatif yang dilakoni cukup menguras kantong. Pengobatan alternatif terakhir, pijat saraf di Mlilir, Dolopo, empat bulan lalu. ‘’Setelah itu nafsu makannya bertambah. Sebelumnya susah makan. Makanya kalau puasa, senang. Ramadan kemarin, puasanya full sampai magrib. Fata juga sudah ngaji sampai juz 20,’’ beber ibunya.
Kelumpuhan kaki tak lantas mengecilkan niatan Fata untuk menggapai cita-cita. Di sekolahnya, Fata dikenal sebagai siswa yang rajin. Kepala SDN 1 Coper Sugeng Irianto mengaku bangga. Sejak duduk di bangku kelas I sampai IV ini, ketidakhadirannya bisa dihitung jari. ‘’Dia absennya hanya pas berobat,’’ tuturnya.
Dengan keterbatasan yang ada, Fata pun lebih sering berada di dalam kelas. Dia memiliki teman karib yang biasa membantunya membelikan jajanan ketika jam istirahat. ‘’Fata tidak kesulitan mengikuti pelajaran,’’ terangnya. *** (fin/c1)