PULUHAN pelajar berseragam putih biru menyesaki ruang studio photo seluas 4×8 meter persegi. Satu persatu secara giliran duduk diatas kursi. Jarak empat meter, berdiri Imam Mujari bersiap memotret. Kamera tipe nikon D 300 menyatu dengan tripod. Tripod itu seperangkat dengan sejumlah tombol khusus. Ketika ditekan, lighting menyala. Perhatian Imam beralih ke seragam pelajar itu yangLanjutkan membaca “Imam Mujari Sepenuh Hati di Jalan Fotografi”
Arsip Penulis:dilarahmatikaa
Kisah Klasik di Rumah Warsono
NUANSA tempo dulu kental dirasa ketika menginjakkan kaki di rumah Warsono. Sebelum memasuki area ruang tamu, dari pelataran rumah tamu harus melewati dua buah pintu kayu jati terukir wayang. Menyusuri setiap sudut rumah sejumlah perabot rumah tangga barang lawas. Maklum, Warsono si empunya rumah adalah penggemar berat barang antik di Ponorogo sejak puluhan tahun silam.Lanjutkan membaca “Kisah Klasik di Rumah Warsono”
Muhammad Haris Kritik Milenial Generasi Menunduk
Kata-kata bukan hanya milik mereka yang melihat saja. Muhammad Haris yang tunanetra rajin menuliskan puisi dan membacakannya. Memukau siapa saja yang menyimaknya. =========== DILA RAHMATIKA, SAHABAT. Tema itu lancar dituliskan Muhammad Haris saat mengikuti lomba cipta dan baca puisi. Lima bait puisi itu mengisahkan pertemanannya di sekolah. ‘’Dia sahabat baik saya, tapi sekarang sudah pindahLanjutkan membaca “Muhammad Haris Kritik Milenial Generasi Menunduk”
Ponpes Darul Huda Mayak Gudangnya Seniman Kaligrafi
TANGAN M.Habib Ali Masduki menggunakan kuas menyapu kanvas putih dengan warna biru langit. Hingga membentuk lukisan seperti langit biru dengan cahaya putih ditengahnya. Dari biru berganti kecokelatan memperjelas gambar tanah lengkap dengan bebatuannya. Sementara diantara tanah dan bebatuan itu bertuliskan ayat inna akromakum ‘indallahi atqakum yang digambar dengan cantik. Sementara di bagian batu lainnya bersandarLanjutkan membaca “Ponpes Darul Huda Mayak Gudangnya Seniman Kaligrafi”
Masih Ada Harapan di Karang Patihan
Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, terbilang istimewa. Sebanyak 96 warganya tercatat tunagrahita. Berbagai program pemberdayaan berhasil mengentaskan mereka dari gelapnya hidup keterbelakangan mental. ———————— DILA RAHMATIKA DI sini masih ada harapan. Tulisan itu menggantung di atap. Pintu rumah itu terkunci. Bahan membuat keset dan kain perca menumpuk di halaman samping. Seorang gadis cilik berambut pendek sibuk menyapuLanjutkan membaca “Masih Ada Harapan di Karang Patihan”
Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Ini Tetap Semangat Bersekolah
PAPAN bertuliskan SLB Aisyiah menggantung dekat atap sebuah bangunan di Jalan Ukel Gang II, Kertosari, Babadan. Dari pelataran SLB Aisyiah itu, sejumlah perempuan berjilbab tampak beralaskan tikar. Mereka tengah menunggu anaknya pulang. Di dalam rumah dua lantai itu terdapat empat ruang kelas. Dari luar terdengar riuh suara anak-anak memenuhi setiap ruangan. Di salah satu ruang kelas,Lanjutkan membaca “Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Ini Tetap Semangat Bersekolah”
”Anak-anak tidak malu saya jadi badut,”
RESTYOYANTI melirik jam dinding tua. Waktu menunjukkan pukul 17.00. Meraih tas kecil warna cokelat lalu diselempangkanke bahu begitu saja berjalan keluar Jalan Gatokaca. Sesampainya di alon-alon Ponorogo langkah kaki Restyoyanti berhenti dibawah pohon beringin. Duduk di perapian pohon dikeluarkannya kostum badut dari dalam tasnya. Dimulai dari memakai baju warna-warni terusan badut. Wig warna-warni yang menyatuLanjutkan membaca “”Anak-anak tidak malu saya jadi badut,””
SISWA PERBATASAN MINIM TRANSPORTASI
Angkutan gratis sekolah masuk desa kenapa tidak ? Dinas Perhubungan (Dishub) Ponorogo menyampaikan signal positif kesempatan program Angkutan Cerdas Sekolah (ACS) ini merambah ke wilayah pedesaaan bumi reyog. Menyusul setelah pihak komite SMPN 1 Badegan yang berharap Pemkab Ponorogo mempertimbangkan moda transprtasi pelajar di wilayah tersebut. ‘’Oke sangat setuju,’’ kata Kepala Dishub Ponorogo Djunaedi kepadaLanjutkan membaca “SISWA PERBATASAN MINIM TRANSPORTASI”
KUBUR CITA-CITA DEMI MERAWAT AYAH TERCINTA
Gadis itu malu menyebutkan nama aslinya. Di usianya yang masih belia, dia kubur dalam-dalam impiannya. Merengkuh pendidikan selayaknya anak-anak sepantarannya. Hari-harinya diisi menunggui ayah tercinta yang terbaring sakit tak berdaya. ———- DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo RAMBUTNYA yang bergelombang sebahu menutupi wajahnya ketika menunduk. Siang itu, gadis 15 tahun itu ’’reuni kecil’’ bersama Ananda. TemanLanjutkan membaca “KUBUR CITA-CITA DEMI MERAWAT AYAH TERCINTA”
SEMANGAT OKAN TAK PERNAH PADAM
Setelah menengok kanan-kiri memastikan kondisi aman, keduanya berlari kecil menyeberangi jalan. Langkah Okan dan Rangga terhenti di sebuah gazebo area pasar wisata. Keduanya lantas melepas sepatu, lalu melanjutkan perjalanan pulang. Dari kawasan pasar wisata, keduanya melintasi jembatan gantung bercat warna-warni yang kini dikenal dengan sebutan Jembatan Pelangi. Keduanya tampak berlari riang saat melintasi jembatan denganLanjutkan membaca “SEMANGAT OKAN TAK PERNAH PADAM”