

PAPAN bertuliskan SLB Aisyiah menggantung dekat atap sebuah bangunan di Jalan Ukel Gang II, Kertosari, Babadan. Dari pelataran SLB Aisyiah itu, sejumlah perempuan berjilbab tampak beralaskan tikar. Mereka tengah menunggu anaknya pulang.
Di dalam rumah dua lantai itu terdapat empat ruang kelas. Dari luar terdengar riuh suara anak-anak memenuhi setiap ruangan. Di salah satu ruang kelas, Rischi Cahyasari terlihat serius mengajar empat muridnya yang berkebutuhan khusus. ‘’Ini angka berapa Syaiful, Keisha, Izza, Sheila?’’ tanya Rischi sembari menunjuk sebuah angka di papan tulis.
Dari keempat anak itu, hanya Syaiful yang menjawab pertanyaannya. Keisha seolah tidak peduli. Sedangkan Izza memilih membolak-balikkan lembar Alquran sambil bersuara seolah mengaji. Sementara, Sheila hanya terdiam dengan menatap kosong ke papan tulis. ’’Keisha perutnya masih sakit? Ayo, diperhatikan sekarang, Ibu mau menggambar,’’ lanjut Rischi.
Pengenalan angka usai, berlanjut pelajaran berhitung. Rischi lantas menggambar sebuah mobil, dua buah donat, tiga cangkir, empat bintang, dan lima kelopak bunga. Kemudian, meminta Sheila maju menuliskan jumlah di setiap gambar tersebut.
Sembari memandu Sheila berhitung, sesekali perhatian Rischi tertuju kepada empat murid lainnya. Tidak lama berselang, Syaiful –siswa yang paling kecil- merengek minta pulang sambil menangis. ‘’Iya, sebentar lagi pulang,‘’ kata Rischi.
Pelajaran terhenti sesaat sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 11.00, saatnya pulang. Semua anak diminta mengangkat kedua tangannya. Namun, tidak bisa berlama-lama. ‘’Seperti Syaiful itu tidak bisa mengangkat tegak kedua tangannya, hanya separo. Itu pun hanya bisa sebentar karena fisiknya lemah,’’ ungkapnya.
Bocah-bocah itu lantas memasukkan buku-bukunya ke tas. Sementara, dari bilik jendela kelas, seorang perempuan berjilbab hitam sudah menanti Keisha, buah hatinya. Dibantu Rischi, Keisha dipapah keluar dari kursi dan berjalan dua tiga langkah sampai akhirnya meminta jalan sendiri.
Keisha berjalan ngesot menggunakan kedua tangannya. Mengangkat tubuhnya sedikit demi sedikit keluar dari pintu kelas. Bocah itu akhirnya digendong ke atas jok motor, bersiap pulang. ‘’Rumahnya (Keisha, Red) Sawoo, ke sini 45 menitan. Kalau dibonceng pakai motor diikat sabuk biar nggak jatuh,’’ paparnya.
Rischi menyebut, semangat anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) itu patut diacungi jempol. Setidaknya, wajah mereka berseri setiap kali bertemu teman-temannya di sekolah. Meski begitu, mereka tidak dituntut secara akademik. Melainkan lebih pada kemandirian.
Izza, misalnya, bocah tunadaksa itu semula hanya bisa mewarna bebas di kertas. Namun, kini telah mampu menggoreskan warna di dalam garis. Itu sudah dianggap sebuah kemajuan. Pun dia yang semula tidak bisa berjalan, akhirnya bisa melakukan aktivitas itu. ‘’Dari yang semula nggak bisa mengancingkan baju atau memasukkan buku ke tas akhirnya bisa mandiri,’’ bebernya.
Dari kelima muridnya itu, mayoritas tunadaksa sedang. Hanya Sheila yang down syndrome. Meski usianya sudah menginjak belasan tahun, masih seperti anak-anak. Ada pula siswa yang selama ini lebih sering duduk di luar kelas. ‘’Tapi, kalau di kelas ada yang sedang menyanyi dan dirasanya menarik, dia baru masuk,’’ ujarnya.
SLB Aisyiah saat ini memiliki 47 siswa. Dua di antaranya sudah lama tidak masuk sekolah. ‘’Sebenarnya rumahnya dekat-dekat sini saja, tapi katanya orang tuanya sibuk kerja, jadi tidak ada yang ngantar,’’ sebut Rischi.
Kepala SLB Aisyiah Wahyu Setyaningsih menambahkan, lembaganya sejatinya masuk kategori SLB A yang fokus mendidik tunanetra. Namun, atas pertimbangan permintaan masyarakat, sekolahnya akhirnya juga menampung anak selain tunanetra. ‘’Murid sini kebanyakan tinggal di asrama,’’ katanya. (dil/c1/isd)
(artikel ini juga bisa dilihat di http://radarmadiun.co.id/harapan-di-tengah-keterbatasan-anak-berkebutuhan-khusus-tetap-semangat-bersekolah/ )