
RESTYOYANTI melirik jam dinding tua. Waktu menunjukkan pukul 17.00. Meraih tas kecil warna cokelat lalu diselempangkanke bahu begitu saja berjalan keluar Jalan Gatokaca. Sesampainya di alon-alon Ponorogo langkah kaki Restyoyanti berhenti dibawah pohon beringin. Duduk di perapian pohon dikeluarkannya kostum badut dari dalam tasnya. Dimulai dari memakai baju warna-warni terusan badut. Wig warna-warni yang menyatu dengan topeng dengan hidung mancung bulatan merah khas badut. Sentuhan terakhir agar semakin mirip badut adalah bola pastik yang sudah agak kempis. Dimasukkan ke dalam tas. Sehingga, ketika resleting kostum tertutup rapat terlihat menonjol di bagian perut. ‘’Kalau nggak ada ini (menunjuk perut) kurang lucu dan tidak seperti badut,’’ kata Restyoyanti.
Perhatiannya lantas beralih ke sebuah kaleng botol minuman yang sudah dipotong setengah bagian. Dan dilapisi kertas karton kuning. Di dalambatol terdapat batang kayu dibagian ujung kepingan tutup botol minuman dipaku. Melangkah menyusuri trotoar aluna-alun perempuan 45 tahun ini bersiap nggenjreng dari satu warung ke warung, ‘’Kalau alon-alon sepi ke Jalan Baru. Cuma muter di dua tempat ini saja,’’ imbuhnya.
Setiap ada warung didatanginya. Tangan kirinya menari-nari, sementara tangan kanan menepuk-nepukkan alat genjrengan itu. Penampilan Restyoyanti kian lucu saat digoyangkannya panggul ke kanan dan kekiri, ‘’Sebenarnya saya ada tape tapi akinya rusak, suaranya nggak maksimal jadi pakai ini (menunjuk kayu),’’ ujarnya.
Jika menggunakan tape dengan kostum badutnya dia akan berjoget diiringi beragam genre musik. Mulai dari lagu anak-anak, campursari, sampai koplo . Jika yang ditemui anak-anak lagu Selama Ultang Tahun jadi yang paling sering diputar. Sebaliknya, apabila sekelompok ibu-ibu maupun bapak-bapak maka disetel dangdut dan campursari, ‘’Menyesuaikan,’’ terangnya.
Ibu dua anak ini sudah lama jadi pengamen badut. Sebelumnya, dia biasa ngamen tanpa kostum itu. Lantaran terancam razia dari satpol PP. Muncul inisiatif nggenjreng dengan kostum badut. Kebetulan, teman suami, juga seorang badut. Dari temannya itu dia memesan dua buah kostum badut. Pakaian inilah yang setia menemani Restyoyanti mengasi rejeki menjadi badut, ‘’Dipakainya gonta-ganti,’’ ujarnya.
Restyoyanto terpaksa bekerja pengamen badut. Penghasilan suami dari berjualan telur puyuh kurang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Biasanya, mulai ngamen dari sore sampai malam hari. Uang yang dikantongi juga tidak seberapa. Mentok kalau ramai sekitar Rp 55.000. Lantaran bersaing dengan pengamen lain, ‘’’Sehari-hari Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu, mentok-mentok ya itu (Rp 55 ribu),’’ bebernya.
Sejatinya, dia asli warga Kota Madiun. Namun, bersama suami sengaja menetap di Ponorogo. Keduanya mebangun biduk rumah tangga ngekos di bumi reyog. Memasuki perayaan festival budaya grebeg suro menjadi ladang rejeki. Namun belum menjamin ramainya penonton mengkerek penghasilannya. Bertahun menjadi pengamen badut suka duka turut dialami, ‘’Sukanya itu bisa menghibur orang terutama anak kecil. Lihat anak kecil tertawa saya sudah senang. dukanya kalau malam takbir tetap kerja keliling kebayang keluarga dirumah,’’ paparnya.
Apabila bertemu seorang perempuan tua duduk seorang diri dipastikan Restyoyanti mendatangi untuk menghibur dengan jogetan dari panggulnya. Perempuan paro baya ini selalu teringat ibunya yang sudah meninggal puluhan tahun silam, ‘’Ibu saya sakit jantung bapak sakit tulang. Karena nggak ada biaya saya nggak bisa ngantar mereka (orangtua) berobat. Saya yatim piatu,’’ terangnya.
Usai menikah, dia dikaruniai dua orang anak. Bersama suami banting tulang mencukupi kebutuha keluarga. Meski harus legawa, hanya mampu mensekolahkan anak sampai tamat SMP. Kini, putri sulungnya sudah menikah dan dikaruniai dua cucu. Sementara yang nomor dua tamat sekolah lanjut bekerja, ‘’Anak anak saya tahu (ngamen badut) mereka nggak malu, katanya (anak anak) yang penting halal dan bukan mencuri,’’ akunya.