
NUANSA tempo dulu kental dirasa ketika menginjakkan kaki di rumah Warsono. Sebelum memasuki area ruang tamu, dari pelataran rumah tamu harus melewati dua buah pintu kayu jati terukir wayang. Menyusuri setiap sudut rumah sejumlah perabot rumah tangga barang lawas. Maklum, Warsono si empunya rumah adalah penggemar berat barang antik di Ponorogo sejak puluhan tahun silam. Bahkan, dari sebagian koleksi barang antik tersebut dijual untuk memenui kebutuhan hidup keluarganya hingga saat ini.
‘’Dulu tahun 1990an sebelum jual barang antik saya konsultan di PLN. Saya resign dan menganggur nggak ada kerjaan, padahal waktu itu baru saja menikah,’’ kata Warsono ditemui Radar Ponorogo di rumahnya kemarin .
Kali pertama berburu barang antik, dia banyak belajar dari adiknya. Yang lebih dulu menggeluti dunia barang antik. Dari situlah kecintaanya dengan barang antik tumbuh dalam jiwanya. Yang belanjut sebagai bisnis baru usai resign dari karyawan BUMN. Masih lekat dalam ingatannya, barang antik buruan pertamanya adalah glebek sebuah gilingan padi tradisional. Dari adiknya dia mengenal pembeli glebek dari Bali. Masyarakat Bali banyak yang membeli glebek ini kebutuhan menggiling padi. ‘’Itu barangyan gsaya jual pertama,’’ ujarnya.
Sedari itulah Warsono sering gladak –sebutan berburu barang antik di kalangan pecinta barang antik- Sampai akhirnya, dia berkenalan dengan seseorang penggear barang antik dari warga negara amerika serika yang berdomisili di sebuah kota Jatim. Setiap kali ada bule yang singgah kerumahnya banyak yang bertanya asal barang antik tersebut. ‘’Akhirnya orang luar negeri itu datang kesini. Terus banyak yang datang kesini dari Amerika Serikat, Swiss, Yunani,Korea sampai Jepang,’’ terangnya.
WNA ini senang dengan barang ataub perabot untuk dijadikan hiasan. Apalagi, jika perabot tersebut menyimpan cerita dn terkait dengan tokoh kenamaan tempo dulu. Seperti sebuah almari koleksinyaa peninggalan keraton Solo. Ramainya konsumen asing ini berlansung tidak lama. Hanya dikurun waktu 1991-2010. ‘’Setelah itu perlahan sepi. Pembeli di Bali juga sepi setelah ada bom bali,’’ paparnya.
Sejauh ini Warsono berburu barang antik dari wilayah Gresik sampai Demak. Melalui perantara seorang makelar yang mengetahui keberadaan barang antik tersebut. Seperti sebuah jineman dengan ukiran khas Demak yang ada di halaman belakang rumahnya. Didapatnyalima tahun silam ketika dia berkunjung ke Demk. ‘’Makelarnya ini bilang ada barang bagus saya diantar ke rumah sebuah pedesaan. Jarak dari kotanya ke desa itu ada 20 kilometer dan jalannya makadam, banyak batu batu-batu besar,’’ kenangnya.
Jineman itu masih dipakai pemiliknya sebagai ruang tidur. Sesuai fungsinya, dari dulu jineman ini hanya ada satu di sebuah rumah. Anggota keluarga tertualah yang berhak tidur di jineman. Susunan kayu jinemanini dibongkar dan diangkut ke atas truk untuk dibawa ke Ponorogo. ‘’Ini (menunjuk jineman) sudh langka sekali pernah ditawar mahal sekali nggak saya lepas, eman,’’ ungkapnya.
Selain jineman di pelataran rumahnya yang lain juga bercokol banyak sawung, rumah panggung untuk lumbung padi asli yang didapatnya dari Ponorogo. Juga sawung lainnya yang diperoleh hasil gladak ke Jombang. ‘’’Saya kalau gladak bisa pagi sampai malam. Pernah dulu jaman belum ada HP, saya tinggal gladak di sekitaran Ponorogo anak pertama saya lahir, baru tahu pas pulang kerumah,’’ kenangnya.

Katanya, barang kuno ini bisa menjadi sangat mahal apabila terdiri dari komponen ukiran maupun cat dari sebuah barang. Ada istilah cat gincu yang biasa ditemui di sebuah ukiran. Warna cat gincu ini hanya ada empat macam. Yakni, merah ,kuning, hijau, hitam dan hijau. Biasanya, disapukan sedikit di beberapa bagian ukiran. Warnanya awet melebih cat masa kini. ‘’Itu dibuatnya dari getah. Suadh 20 tahun ini banyak yang cari nggak temu. Orang Purwontoro ahlinya repro barang antik saja nggak temu. Cat gincu ini digores dikaih apa aja susah hilangnya, kalau ada ini (cat gincu) barang jadi mahal,’’ jelasnya.
Selain itu, juga dilihat dari bentu ukiran. Apabila ada ukiran hewan, wayang atau manusia dalam barang antik dipastikan harganya selangit. Penggemar antik menyukai ukiran yang original. Pahatan yang dibuat orang jaman dulu dianggap unik. Semisal, pahatan kuda tidak menyerupai kuda asli. Melainkan, dilihat sekilas mirip anjing, kerbau atau hewan lainnaya.

‘’Itu yang unik. Antik. Orang dulu mahat nggak banyak alat, juga nggak digambar dulu kayunya tapi bisa jadi bagus dan awet. Originalnya ini disukai penggemar barang antik. Terakhir, yang membuat semakin mahal ada prada. Cat dari emas muda biasanya diukiran Cina, kalau cat gincu hanya diwarna sedikit-sedikit. tapi kalau prada bisa full semua ukiran,’’ pungkasnya sembari menyebut pemilik perabotan dengan cat gincu maupun prada adalah orang kaya di jaman dulu. Bahan-bahan itu cukup mahal di erannya. (dil)