Ponpes Darul Huda Mayak Gudangnya Seniman Kaligrafi

TANGAN M.Habib Ali Masduki menggunakan kuas menyapu kanvas putih dengan warna biru langit. Hingga membentuk lukisan seperti langit biru dengan cahaya putih ditengahnya.  Dari biru berganti kecokelatan memperjelas gambar tanah lengkap dengan bebatuannya. Sementara diantara tanah dan bebatuan itu bertuliskan ayat inna akromakum ‘indallahi atqakum yang digambar dengan cantik. Sementara di bagian batu lainnya bersandar huruf arab bertuliskan lafadz Allah, ‘’Jadi ini langitnya dan ini buminya, pesannya langit dan bumi adalah bagian dari kekuasan Allah SWT,’’ kata Habib –sapaan akrabnya- santri Ponpes Darul Huda Mayak Ponorogo.

Ada empat klasifikasi kaligrafi yang diajarkan di ponpes ini. Yakni, kaligrafi lukis, mushaf, dekorasi dan naskah. Dari ke empat itu, santri kelas XI MTs ini menekuni kaligrafi lukis. Layaknya melukis pada umumnya, pada kaligrafi lukis objek utama yang digambar adalah ayat suci Al-Quran yang  ditulis sesuai kaidahnya. Sedikitnya ada enam kaidah kaligrafi. Yakni, naskhi, tsuluts, riq’ah, kufi, farisi, diwani. Dan dalam kaligrafi lukis, seniman bisa bebas menggunakan ke enam kaidah tersebut ketika menggambar ayat Al-Quran, ‘’Kaligrafi lukis ini bermain imajinas, banyak warna dan kaidahnya,’’ ujar remaja 18 tahun ini.

Sedari Madrasah Ibtuidaiyah (MI) Habib sudah mengenal kaligrafi.  Hanya saja kala itu menggambar ayat menggunakan crayon. Selain itu darah seni mengalir dari jiwanya. Terbukti, ketika kelas V MI pernah menjuarai lomba menggambar. Ketertarikan menggamabar itulah yang membawanya pada kaligrafi lukis. Yang ternyata lukisan dipadupadankan dengan kaligrafi hasilnya juga menarik, ‘’Lulus MI segaja pillh ponpes mayak karena disini terkenal mendalam kaligarfinya. Jadi ingin memperdalam lagi,’’ imbuhnya.

Di Ponpes Mayak untuk mempelajari kaligrafi haruslah melwati basic pertama. Selama setahun dibimbing ustad/ustadzah ahli kaligrafi menguasai teknik menulis ayat. Setelah itu santri dituntut untuk aktif mengikuti pelatihan. Dan didorong mengikuti kompetisi kaligrafi jika ingin mengukur kemampuan seni dalam Islam ini, ‘’Naik kelas dua MTs pertama kali ikut kompetisi kaligrafi sepondok. Khusus putra. Alhamdulillah dapat juara satu, waktu itu yang dilombakan  khusus untuk menulis lafadz saja,’; kenangnya.

Barulah setelah setahun dibina, memasuki tahun kedua santri diminta bebas memilih dari empat klasifikasi kaligrafi itu. Dan Habib memilih menekuni kaligrafi lukis. Berkat ketekunannya itu,  berhasil  menyabet juara satu kaligrafi Porseni MTs se-Ponorogo . Dan berhak mewakili Jatim dalam ajang porseni Jatim caang kaligrafi Oktober mendatang, ‘’Kalau lomba gitu dikasih waktu delapan jam melukis diatas kertas manila, yang bagus itu tidak ada satu huruf yang tertinggal dan karya  harus timbul dan kelihatan hidup,’’ bebernya.

Bagi Habib kunci memhami kaligrafi adalah melihat, meniru dan memodifikasi. Selain Habib, dua tutor kaligrafi lainnya di ponpes ini adalah  Muhammad Ainun Najib dan Muhammad Mas’ud. Masing-masing ustadz  ini menekuni bidang kaligrafi yang berbeda. Najib berfokus pada naskah. Sedangkan, Mas’ud lebih tertarik ke mushaf, ‘’Kalau mushaf ini kaidah yang dipaka minimal tiga. Dan banyak hiasannya seperti bunga-bunga. Harus sabar dan telaten,’’ paparnya.

Lain cerita dengan Mas’ud yang cenderung menyukai gaya kaligrafi naskah. Ciri khasnya, warna yang digunakan hanya hitam dan putih. Juga lebih menekankan pada aspek penulisan huruf arab. Dalam kompetisi kaligrafi seseroang yang menggambar naskah ada dua karya yang dibuat. Yang satu khusus  menulis huruf arab seperti yang biasa ditemui dalam lembaran Al-Quran, ‘’Menulisnya  nggak sembarangan enam kaidah bisa diterapkan, kertas manila satunya untuk menggambar huruf dengan dikreasikan,saya senang  gaya naskah ini karena nggak ribet, tidak butuh banyak warna dan spidol,’’ bebernya.

Yang terpenting dalam kaligrafi adalah bukan sekadar tulisan arab. Proses mempelajari seni ini tidak instant. Melainkan membutuhkan keultean dan waktu yang tidak sebentar. Juga, kaligrafi adalah bagian dari syiar Islam. Tidaks edikit yang mendapatkan ladang rejeki dari ketekunan berkaligrafi. Seperti membuat kaligrafi untuk kebutuhan pembangunan masjid atau menjadi guru. ‘’Kursus kaligrafi di sini sudah ada sejk 1999 dan alumnus ponpes ini ada yang sekarang menetap di Turki jadi instruktur kaligrafi disana namanya Nur Hamnidiyah,’’ pungkasnya. (dil)

(tulisan ini sudah terbit di koran Jawa Pos Radar Ponorogo edisi 1 September)

Diterbitkan oleh dilarahmatikaa

Dia lahir di Manado besar di Jawa. Sewaktu kecil mendamba jadi reporter. Yang bisa melaporkan bencana di lokasi. Tahunya, waktu udah gede keturutan tapi tampilnya bukan di layar kaca. Banyak yang tanya dulu kuliahnya apa ? Jelas jurusanku emang gak ada hubungannya sama jurnalistik heheheh tapi hobi nulis. Jadilah aku si reporter antropologi budaya. Yaps, dulu S1 Antropologi di UB Malang.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai